Saturday, August 10, 2013

Kisah Putus Cinta dalam buku "PUTUS"

Rp 50.000,- sudah termasuk Ongkos kirim ke seluruh Indonesia. '
.
PENGANTAR – PUTUS

                Sebuah kalimat terindah yang mengantarkan lahirnya buku antalogi “PUTUS” ini hanyalah senandung “Alhamdulillah” yang luar biasa dahsyat dan penuh keajaiban. Berawal dari buku antalogi pertama dengan tema “Kenangan Terindah Masa Sekolah” yang kemudian laris dengan sebutan KTMS, muncullah ide baru yang mengandung decak kagum. Tema “PUTUS” yang mengambil kolaborasi antara cerita dan puisi dengan percampuran yang menghasilkan karya-karya indah.

                Sewaktu event ini pertama kali muncul, saya tiba-tiba teringat tentang sebuah kisah yang mengharu biru. Siapa sich yang tidak pernah merasakan putusnya cinta? Siapa yang tidak pernah menangis dimalam-malamnya karena sakit hati? Saya rasa semua pernah mengalaminya. Entah apa pula yang membuat saya begitu terlihat “kalap” hingga dihari itu pula saya membuat sebuah cerpen dengan tema tersebut. Saya mencari-cari sebuah puisi yang pernah saya buat dimasa saya merasakan putus cinta dan dihari itu pula saya mengirimkan karya saya. Saya sempat terkejut ketika mengetahui bahwa judul cerpen saya berada dalam urutan pertama pengiriman, padahal saya kira sudah banyak yang kirim, mungkin karena saya terlalu bersemangat untuk membagi kisah saya.
                Suatu proses yang menyakitkan namun begitu berharga untuk dilewatkan adalah saat mengalami patah hati karena putus cinta. Bukan berarti rasa itu harus dirasakan semua orang untuk bisa memahami tentang sebuah proses pendewasaan diri ketika kita dituntut untuk ikhlas menerima kenyataan. Saya rasa sakit itu akan mampu membuat kita semakin kuat dan menghargai rasa-rasa lain yang suatu hari akan bertengger menggantikan sakit itu.

                Buku ini bukan hanya harus dibaca bagi mereka yang pernah merasakan putus, buku ini untuk semua orang yang belajar menghargai cinta. Untuk yang belum pernah merasakan sakitnya, belajarlah mempertahankan rasa yang telah singgah dengan indah dihatimu. Untuk yang pernah merasakannya, bangkitlah karena mentari esok masih menunggumu untuk kembali bermimpi. Putus bukan berarti dunia telah kiamat, putus adalah proses belajar.
                Jadi, semoga karya-karya yang tampil dengan cantik dalam buku ini mampu memberikan kebahagian lain yang indah dan penuh makna. Begitu banyak hal yang hanya mampu kita raba namun tak mampu kita gapai karena kita terlalu takut untuk percaya bahwa keajaiban hidup ini benar-benar nyata.
                Salam keajaiban menulis!!!
Malang, 27 Juni 2012
 Dwi Ani Farida
(penulis dan pembaca)
 



No comments:

Post a Comment